Profesi ahli farmasi adalah salah satu profesi yang kerap kali menjadi alasan kebingungan oleh masyarakat. Profesi ahli farmasi tenaga teknis kefarmasian atau apoteker memiliki definisi dan Rana kerja yang bisa dibilang mirip, namun tetap terlihat berbeda. Demikian pula dengan pafiargamakmur.org dengan IAI atau Ikatan Apoteker Indonesia.

Dilansir dari pafiargamakmur.org, tenaga teknis kefarmasian berbeda dengan apoteker. Walau di keduanya memiliki fungsi yang kurang lebih mendekati, karena sama-sama andil di dalam dunia kefarmasian. Namun, kedua profesi ini bersinergi demi tercapainya program farmasi yang berkelanjutan dan bermutu untuk masyarakat.

Di artikel kali ini, kami akan membahas tentang perbedaan signifikan antara PAFI dan IAI sebagai organisasi profesi. Kamu juga sekaligus membahas tentang fungsi kedua organisasi dan kedua profesi ersebut di dunia farmasi. Informasi selengkapnya dapat diakses melalui pafiargamakmur.org atau https://pafiargamakmur.org

Apa Perbedaan Signifikan Antara PAFI dan IAI?

Definisi IAI dan PAFI

Ahli farmasi bekerja di bidang yang sama-sama berhubungan dengan obat-obatan serta pelayanan kefarmasian. Walau sebenarnya, apoteker yang dinaungi oleh IAI dan Tenaga Teknis Kefarmasian dinaungi oleh PAFI adalah dua profesi yang berbeda.

Berdasar pada definisi dari kedua profesi adalah apoteker yang merupakan seorang sarjana profesi dan telah lulus sebagai apoteker. Apoteker juga telah mengucap sumpah jabatan apoteker sebelumnya, sehingga dipastikan akan melayani masyarakat luas. Sementara tenaga teknis kefarmasian memiliki definisi yang berbeda dengan apoteker.

Tenaga teknis kefarmasian dinaungi langsung oleh PAFI atau Persatuan Ahli Farmasi Indonesia yang turut serta membantu apoteker dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian. Tenaga teknisi kefarmasian biasanya terdiri dari sarjana farmasi yang belum sumpah profesi, seorang ahli madya farmasi atau analis farmasi.

Pendidikan Tenaga Teknis Kefarmasian dan Apoteker

Jika ditinjau dari segi pendidikan kedua profesi, jelas terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Pendidikan yang harus ditempuh oleh ahli farmasi dan apoteker berbeda karena apoteker harus menyelesaikan pendidikan S1 jurusan farmasi, dan kemudian akan dilanjutkan dengan menempuh pendidikan profesi apoteker.

Apabila apoteker telah menyelesaikan pendidikan profesi dan mengambil sumpah profesi apoteker maka apoteker dapat disebut sebagai apoteker. Sementara ahli farmasi berlainan dengan pendidikan apoteker. Ahli farmasi disebut sebagai tenaga teknis kefarmasian yang harus menyelesaikan pendidikan D3 farmasi atau S1 farmasi, namun tidak perlu sumpah apoteker atau mengambil program profesi.

Surat Izin Praktik Kefarmasian Apoteker dan TTK dan Izin Praktik

Apoteker dan seorang ahli farmasi terdapat kesamaan yakni sama-sama membutuhkan surat izin yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah kota atau kabupaten. Surat izin ini diperlukan untuk menjalankan praktiknya sebagai ahli farmasi dan apoteker. Khususnya untuk apoteker memiliki nama surat izin praktik apoteker atau biasa disingkat dengan SIPA, sedangkan untuk farmasi memiliki nama surat izin praktik tenaga teknis kefarmasian dan biasa disingkat SIPTTK.

Jika dilihat dari sejarahnya, PAFI terbentuk lebih dahulu dibanding IAI karena profesi asisten apoteker telah hadir sejak zaman Belanda. Profesi apoteker hanya boleh dipegang oleh orang-orang Eropa terdahulu, sehingga orang pribumi hanya boleh menjadi asisten saja. Adapun pendidikan di bidang obat-obatan didapat dari tempat bekerja selama menjadi asisten apoteker.

Organisasi Profesi PAFI dan IAI

Apoteker di Indonesia dinaungi oleh organisasi profesi yang biasa disebut sebagai Ikatan Apoteker Indonesia atau IAI. Sementara ahli farmasi juga memiliki organisasi profesi sendiri yakni Persatuan Ahli Farmasi Indonesia atau biasa disingkat PAFI. Informasi selengkapnya dapat diakses melalui situs resmi https://pafiargamakmur.org

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *